Thursday, February 23, 2012

Analisa Ekonomi Madura Menggunakan Tabel IO Madura Tahun 2008 (1)

1. Analisa Keterkaitan ke Belakang 
Analisa keterkaitan ke belakang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu sektor dalam mendorong pertumbuhan produksi sektor-sektor lain yang memakai input dari sektor tersebut. Jika output sektor tertentu meningkat maka akan mendorong peningkatan output sektor-sektor lainnya. Hal ini terjadi karena peningkatan output suatu sektor akan meningkatkan permintaan input sektor tersebut. Padahal input sektor tersebut bisa berasal dari sektor itu sendiri ataupun dari sektor yang lain sehingga peningkatan suatu sektor juga akan meningkatkan permintaan output sektor lainnya. Begitu seterusnya hingga terjadi keterkaitan antar sektor yang bersumber dari mekanisme penggunaan input produksi.
Dalam analisa keterkaitan ke belakang bisa dijabarkan menjadi keterkaitan ke belakang langsung, keterkaitan ke belakang tidak langsung dan keterkaitan ke belakang total. Keterkaitan ke belakang langsung terjadi jika peningkatan permintaan akhir suatu sektor maka akan terjadi peningkatan penggunaan input produksi sektor tersebut secara langsung. Peningkatan penggunaan input tersebut adalah peningkatan total output karena total input sama dengan total input. Besarnya keterkaitan ke belakang langsung suatu sektor dapat dilihat dari besarnya penjumlahan nilai kolom suatu sektor pada matriks teknologi. Berdasarkan Tabel 1. dapat dilihat bahwa 5 (lima) sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang langsung terbesar adalah sektor 20 : bank sebesar 0,4283; sektor 21 : lembaga keuangan bukan bank sebesar 0,3296; sektor 10 : air bersih sebesar 0,3079; sektor 15 : angkutan jalan raya sebesar 0,2815 dan sektor 8 : industri sebesar 0,2669. Keterkaitan ke belakang langsung sektor 20 sebesar 0,4283 artinya adalah jika terjadi peningkatan satu rupiah output sektor 20 maka akan terjadi peningkatan input sebesar 0,4283 rupiah dari sektor yang menyediakan input secara langsung termasuk dari sektor 20 sendiri.
 Tabel 1.
Analisa Keterkaitan ke Belakang Perekonomian Madura Tahun 2008
No
Sektor
Keterkaitan ke Belakang
Langsung
Total
1
Tanaman Bahan Makanan
0.1359
1.1607
2
Tanaman Perkebunan
0.0902
1.1132
3
Peternakan dan Hasil-hasilnya
0.0965
1.1153
4
Kehutanan
0.0539
1.0672
5
Perikanan
0.1761
1.2152
6
Minyak dan Gas Bumi
0.1228
1.1402
7
Penggalian
0.0844
1.1045
8
Industri
0.2669
1.3151
9
Listrik dan Gas
0.2296
1.2863
10
Air Bersih
0.3079
1.4270
11
Bangunan
0.2057
1.2392
12
Perdagangan Besar & Eceran
0.1098
1.1447
13
Hotel              
0.1362
1.1629
14
Restoran
0.1773
1.2109
15
Angkutan Jalan Raya 
0.2815
1.3469
16
Angkutan Laut
0.2161
1.2675
17
Angkutan Sungai, Danau & Penyebrangan
0.1870
1.2296
18
Jasa Penunjang Angkutan
0.0129
1.0162
19
Komunikasi
0.1084
1.1378
20
Bank
0.4283
1.6021
21
Lembaga Keuangan Bukan Bank
0.3296
1.4464
22
Real Estate
0.1123
1.1491
23
Jasa Perusahaan
0.2425
1.3113
24
Pemerintahan Umum
0.2277
1.2854
25
Jasa Sosial Kemasyarakatan
0.1717
1.2067
26
Jasa Hiburan & Rekreasi
0.1875
1.2298
27
Jasa Perorangan & Rumahtangga
0.1841
1.2230
Sumber : Hasil Pengolahan, 2011
Keterkaitan ke belakang tidak hanya memiliki efek langsung saja namun juga memiliki efek tidak langsung dari penambahan output suatu sektor. Besarnya keterkaitan ke belakang tidak langsung bisa dilihat dari besarnya keterkaitan ke belakang total karena didalamnya terdiri atas efek langsung dan tidak langsung. Besarnya keterkaitan ke belakang total ditunjukkan dengan besarnya nilai kolom suatu sektor pada matriks kebalikan Leontief. Berdasarkan Tabel 1. dapat ditunjukkan bahwa 5 (lima) sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang total terbesar adalah sektor 20 : bank sebesar 1,6021; sektor 21 : lembaga keuangan bukan bank sebesar 1,4464; sektor 10 : air bersih sebesar 1,4270; sektor 15 : angkutan jalan raya sebesar 1,3469 dan sektor 8 : industri sebesar 1,3151. Besarnya nilai keterkaitan ke belakang total memiliki nilai lebih dari satu karena didalamnya juga memperhitungkan perubahan input dari suatu sektor yang dimaksud. Keterkaitan ke belakang total sektor 20 sebesar 1,6021 artinya adalah jika terjadi peningkatan satu rupiah output sektor 20 maka akan terjadi peningkatan input total sebesar 1,6021 rupiah dari sektor yang menyediakan input termasuk dari sektor 20 sendiri.
Sektor 20 : bank dan sektor 21 : lembaga keuangan bukan bank memiliki nilai keterkaitan yang ke belakang yang tinggi menunjukkan bahwa sektor tersebut mampu menarik perekonomian Madura melalui penyediaan dana bagi masyarakat yang bisa digunakan untuk proses produksi. Meskipun dalam struktur PDRB peran sektor 20 dan sektor 21 hanya menyumbang 1,3% namun cukup mampu menarik produksi sektor lain. Semakin besar nilai keterkaitan ke belakang suatu sektor maka akan semakin besar pula kemampuan sektor tersebut untuk menarik produksi sektor lainnya melalui penyediaan input.
Keterkaitan ke belakang sektor lingkup pertanian sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh sektor lingkup pertanian sebagai sektor primer sehingga sangat minim kebutuhan penggunaan input dari sektor lainnya. Kebutuhan input sektor lingkup pertanian berupa pupuk, bibit, benih, pestisida, obat ternak serta alat mesin pertanian. Dengan semakin kecil penggunaan input yang masuk ke sektor lingkup pertanian maka semakin kecil pula nilai keterkaitan ke belakang. Sektor yang paling memiliki keterkaitan ke belakang yang kuat dengan sektor lingkup pertanian adalah sektor 12 : perdagangan besar dan eceran serta sektor 8 : industri. Hal ini menunjukkan input produksi dari sektor lingkup pertanian banyak diperoleh dari perdagangangan serta yang merupakan hasil produksi industri. Semakin besar nilai keterkaitan ke belakang sektor pertanian maka semakin besar pula sektor 12 dan sektor 8 menghasilkan output sebagai sektor lingkup pertanian.
Sektor 8 : industri memiliki keterkaitan ke belakang yang besar menunjukkan bahwa semakin banyak input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output. Sektor yang memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor 8 adalah sektor lingkup pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa banyak industri yang berkembang di Madura yang menggunakan input dari sektor pertanian seperti industri keripik, serta industri makanan lainnya. Selain itu sektor lain yang memiliki keterkaitan ke belakang yang kuat dengan sektor 8 adalah sektor 12 : perdagangan besar dan eceran. Hal ini menunjukkan bahwa banyak input sektor 8 yang diperoleh dari hasil sektor perdagangan. Semakin besar output produksi sektor 8 maka akan semakin besar pula input yang dibutuhkan yang berasal dari sektor lingkup pertanian dan sektor 12 : perdagangan besar dan eceran.
Oleh karena itu, hasil analisa keterkaitan ke belakang perekonomian Madura tahun 2008 bisa dijadikan strategi dalam pembangunan perekonomian Madura.

Sunday, February 19, 2012

SUKU BUNGA KOPERASI ANDINI JAYA BANGKALAN YANG KOMPETITIF

Bank Indonesia beberapa waktu yang lalu menurunkan suku bunga kredit acuan sebanyak 25 poin dari 6,00% menjadi 5,75%. Alasannya adalah fondasi perekonomian Indonesia yang semakin baik serta bermaksud untuk mendorong pertumbuhan investasi karena semakin rendah suku bunga kredit maka investasi akan semakin besar. Penurunan suku bunga tersebut diharapkan juga menurunkan suku bunga kredit bank komersial hingga mencapai 7,00-8,00% sehingga tujuan penurunan suku bunga kredit benar tercapai.
Koperasi Andini Jaya Bangkalan di dalam Rencana Kerja tahun 2012 telah menetapkan suku bunga kredit sebesar 15% sama seperti tahun 2011. Apakah suku bunga tersebut kompetitif dibandingkan dengan suku bunga bank komersial? Berapakah suku bunga yang kompetitif bagi Koperasi Andini Jaya?
Sejak menjadi anggota Koperasi Andini Jaya pada tahun 2006 maka penurunan suku bunga kredit terjadi satu kali yaitu pada 2011 dimana suku bunga kredit turun dari 18% menjadi 15%. Penurunan itu sebagai respon dari tingginya perbedaan suku bunga koperasi dengan suku bunga bank yang mencapai 7-8% sehingga banyak anggota koperasi yang lebih memilih meminjam di bank dibandingkan dengan koperasi serta penurunan omzet kredit koperasi pada 2011. Agar anggota koperasi tetap memanfaatkan kredit di koperasi maka tahun 2011 itulah suku bungan turun. Sebagai informasi bahwa saat itu suku bunga kredit acuan BI sebesar 6,50%.
Penurunan suku bunga kredit sebanyak 3% di tahun 2011 ternyata memberikan dampak yang cukup baik bagi koperasi. Omzet kredit naik hingga 90 juta rupiah dari 401 juta pada 2010 menjadi 491 juta pada 2011. Kenaikan omzet tersebut juga dibarengi dengan kenaikan provisi dari 4,8 juta pada 2010 menjadi 5,5 juta pada 2011. Dua indikator ini menunjukkan bahwa penurunan suku bunga kredit menyebabkan anggota koperasi bergairah untuk meminjam di koperasi sehingga omzet koperasi dan pendapatan dari provisi meningkat. Disisi lain, Pendapatan dari jasa kredit tahun 2011 relatif sama dibandingkan tahun 2010 yaitu sebesar 115 juta rupiah walaupun suku bunga diturunkan. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan suku bunga kredit tidak memberikan pengaruh pengurangan penerimaan koperasi. Penurunan suku bunga kredit diimbangi peningkatan omzet sehingga penerimaan jasa kredit relatif stabil.
Dengan suku bunga kredit acuan BI tahun 2012 sebesar 5,75% dan suku bunga bank komersial akan ditekan hingga 7-8% maka suku bunga kredit koperasi sebesar 15% menjadi kurang kompetitif lagi. Penurunan omzet koperasi seperti pada tahun 2010 akan mungkin terjadi lagi di 2012. Margin suku bunga kredit yang tinggi antara koperasi dan bank komersial menjadi penyebab anggota lebih memilih meminjam di bank komersial.
Sepertinya perlu dikaji lebih jauh lagi kemungkinan penurunan suku bunga kredit koperasi menjadi 12%. Selain penurunan suku bunga kredit acuan dan bank komersial plus inflasi tahun 2011 yang hanya 3,75% maka suku bunga kredit koperasi sebesar 12% menjadi kompetitif dan layak dipertimbangkan. Jika itu terjadi maka kenaikan omzet akan pasti terjadi dan penurunan pendapatan dari jasa kredit relatif tidak besar. Memang diperlukan tambahan modal untuk mengantisipasi kenaikan omzet kredit USP dan menjaring modal anggota adalah pilihan yang pas. Jika penurunan suku bunga kredit tidak diimbangi dengan kenaikan modal maka antrian peminjam akan kembali terjadi dan ini bisa menjadi alasan lain yang menyebabkan anggota akan meminjam ke bank.

Sunday, May 8, 2011

PENINGKATAN NILAI PERTANIAN RAKYAT MELALUI SISTEM PERTANIAN TERPADU DI PEDESAAN

Alasan Perlunya Sistem Pertanian Terpadu
Sekitar 200 tahun yang lalu, Thomas Malthus mengajukan sebuah teori tentang hubungan antara pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi yang masih dipercaya hingga saat ini. Dalam teorinya, Thomas Malthus merumuskan sebuah konsep tentang pertambahan hasil yang semakin berkurang. Malthus melukiskan sebuah kecenderungan universal bahwa jumlah populasi di suatu negara akan meningkat sangat cepat menurut deret ukur atau tingkat geometrik setiap 30 – 40 tahun. Sementara itu karena adanya proses pertambahan hasil yang semakin berkurang dari suatu faktor produksi yang jumlahnya tetap, yaitu tanah maka persediaan pangan hanya akan meningkat menurut deret hitung atau tingkat aritmetik (Todaro dan Smith, 2004).
Sebagai gambaran yang bisa mendukung teori Malthus adalah bahwa populasi penduduk dunia pada tahun 1950 hanya 2,5 milyar dan meningkat menjadi 5,3 milyar pada 1990 dan pada 2030 akan menjadi 8,9 milyar. Maka benarlah jika pertumbuhan populasi penduduk mengikuti deret ukur sebagaimana disampaikan oleh teori Malthus. Besarnya pertumbuhan penduduk selanjutnya akan meningkatan permintaan akan pangan. The World Food Summit-FAO di Roma pada 1997 memprediksi bahwa produksi pangan dan pakan di negara berkembang harus meningkat tiga kali lipat pada tahun 2050. Peningkatan tersebut  untuk memenuhi tuntutan populasi manusia yang diperkirakan meningkat dua kali lipat dan aspirasi mereka untuk standart hidup yang lebih tinggi. Menurut laporan PBB tahun 2005, permintaan pangan meningkat 70 – 85 % dalam 50 tahun kedepan dan air bersih meningkat antara 30 – 85 %. Peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan penyediaan pangan sehingga terdapat satu disparitas yang tumbuh antara peningkatan populasi dunia dengan kapasitas produksi pangan dunia yang lajunya lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk. Disparitas tersebut ditunjukkan oleh penyediaan pangan perkapita terus menurun di dunia.
Dunia telah berusaha dalam meningkatkan produksi pangan agar sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Revolusi hijau telah berhasil mencukupi pangan pada era 60 – 80 an melalui penggunaan mesin, pupuk, pestisida dan bibit unggul. Banyak negara yang menikmati hasil dari revolusi hijau termasuk Indonesia yang berhasil mencapai swasembada beras pada 1984 melalui program Bimas. Namun saat ini, revolusi hijau telah terbukti menimbulkan beragam masalah. Tanah menjadi berkurang kesuburannya akibat penggunaan pupuk yang berlebihan. Indikator rusaknya tanah akibat pengunnaan pupuk kimia yang berlebihan adalah tanah pertanian yang teksturnya semakin keras. Selain itu, kenaikan produksi dapat terjadi jika dibarengi dengan peningkatan penggunaan pupuk. Efek negatif lainnya adalah degradasi lingkungan akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. Banyak produk pertanian yang terkontaminasi oleh pestisida dan berakibat buruk pada kesehatan terutama penyebab penyakit degeneratif. Penggunaan pestisida yang berlebihan juga menimbulkan banyak hama yang resisten apalagi didukung oleh penanaman yang sejenis (monokultur).
Yang paling penting untuk ditindaklanjuti adalah berkurangnya nilai yang diterima petani akibat besarnya biaya input dalam pertanian. Revolusi hijau menuntut input dengan biaya yang besar seperti benih, pupuk, pestisida, energi, pakan, obat-obatan dan tenaga kerja. Besarnya biaya input menyebabkan hasil yang diperoleh petani semakin kecil, terutama petani rakyat yang mempunyai lahan kecil dan menggantungkan modalnya kepada rentenir. Apalagi nilai hasil pertanian saat ini secara nominal lebih tinggi namun secara riil semakin berkurang.
Data Bank Dunia dalam "2001 World Development Indicators" memperlihatkan bahwa secara agregat indeks harga pertanian pada 1960 nilainya 208, dan pada 2000 menjadi 87 sehingga nilai riil pertanian berkurang 2,39 kali. Secara lebih rinci, dengan menggunakan nilai dolar pada 1990 maka harga riil pada tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1960, beberapa komoditas pertanian penting semuanya menjadi lebih murah. Harga beras tahun 2000 lebih murah 2,58 dari tahun 1960. Begitu juga dengan komoditas lain seperti karet, kopi arabika, teh, kelapa sawit, beras, jagung, dan gula. Maka wajar jika banyak petani mengeluhkan nilai komoditas pertanian yang semakin murah dan tidak ada harganya dibandingkan dengan komoditas non pertanian. Jika pada tahun 1980 petani dengan lahan 1 ha saja sudah bisa menjadi saudagar maka saat ini petani dengan lahan 1 ha hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dengan catatan tidak ada gagal panen. Ketidakadilan yang dialami petani rakyat dalam skala yang lebih luas juga terjadi karena negara berkembang hanya dijadikan sebagai pemasok bahan baku dan menjadi pasar dari hasil pengolahan bahan baku yang dilakukan oleh negara berkembang. Petani menjual produk dengan harga murah dan terus murah dan membeli hasil olahan yang mahal dan terus mahal.

Peran Peternakan dalam Sub Sektor Pertanian
Peternakan adalah salah satu bagian dari pertanian yang memiliki nilai strategis tersendiri. Dalam kehidupan sehari-hari peternakan dapat digambarkan melalui pemanfaatan produk-produknya. Produk peternakan diasosiasikan dengan standart hidup yang tinggi dimana ketika standart hidup meningkat maka konsumsi produk ternak meningkat. Daging, telur dan susu berikut produk olahannya selalu dijadikan standart kecukupan protein. Dan konsumsi produk peternakan di Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara lain khususnya negara maju atau dengan kata lain standart kehidupan di Indonesia cukup rendah.
Namun permasalahan yang cukup mengkhawatirkan dalam peternakan adalah persaingan antara pakan dan pangan. Sistem pemberian pakan dalam peternakan menggunakan sumberdaya yang sama dengan yang dimakan manusia. Serealia dan tepung kedele adalah komponen terbesar pakan ternak yang juga dikonsumsi oleh manusia. Diperkirakan hampir 50% dari supply biji-bijian dunia dikonsumsi ternak. Jika semua biji-bijian dunia dicadangkan untuk konsumsi manusia saja maka akan cukup untuk memberi makan 9 – 10 milyar penduduk dunia pada titik mana populasi dunia diharapkan akan stabil. Oleh karena itu, pemecahan terhadap masalah memenuhi kebutuhan pangan di tahun mendatang adalah mengembangkan sistem produksi ternak yang tidak tergantung pada biji-bijian serealia.
Keuntungan lain dari alternatif sistem pakan bukan biji-bijian akan membawa kepada pengurangan kontaminasi lingkungan, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan keragaman hayati dan produk ternak yang lebih baik mutunya. Karenanya tiap intervensi yang melibatkan ternak harus didasarkan pada peran sinergis mereka dalam manfaat sistem pertanian keseluruhan ketimbang sebagai penghasil daging, susu atau telur yang menggunakan pakan bersaing dengan kebutuhan manusia. Sistem peternakan yang menggunakan pakan sama dengan pangan hanya akan mengakumulasi masalah dimasa mendatang, apalagi sekarang pangan tidak hanya digunakan sebagai pakan tetapi juga energi. Tentu diperlukan terobosan dalam bidang peternakan untuk menjaga keberlanjutan sistem pertanian secara keseluruhan.

Pernyataan Ahli tentang Pertanian Terpadu dan Keberlanjutan
Berikut ini adalah pernyataan para ahli mengenai pertanian terpadu dan keberlanjutan yang sangat relevan untuk dikembangkan lebih lanjut. Prof Chan menyatakan bahwa tidak dibenarkan untuk berharap pembangunan berkelanjutan bila tetap menghambur-hamburkan sumber daya alam. Hari dimana orang menyadari bahwa limbah sekali waktu adalah makanan dan ilmu dan teknologi bergandengan dengan akal budi manusia merubah limbah menjadi sumber daya, baru kita bicara mengenai keberlanjutan. Selain itu, Preston dan Murgueitio (1994) juga menyatakan bahwa penggunaan yang berkelanjutan dari sumber daya alam terbarukan akan difasilitasi ketika pakan ditanam, hewan diberi pakan dan kotoran didaur ulang pada lahan yang dapat mengurangi penggunaan input impor termasuk energi.

Definisi Sistem Pertanian Terpadu
Sistem pertanian terpadu adalah satu sistem yang menggunakan ulang dan mendaur ulang menggunakan tanaman dan hewan sebagai mitra, menciptakan suatu ekosistem yang meniru cara alam bekerja. Satu praktek budidaya aneka tanaman/aneka kultur yang beragam dimana output dari salah satu budidaya menjadi input kultur lainnya sehingga meningkatkan kesuburan tanah dengan tindakan alami menyeimbangkan semua unsur hara organik yang pada akhirnya membuka jalan untuk pertanian organik ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pertanian pada hakekatnya merupakan pertanian yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem di dalamnya sehingga aliran nutrisi (unsur hara) dan energi terjadi secara seimbang. Keseimbangan inilah yang akan menghasilkan produktivitas yang tinggi dan keberlanjutan produksi yang terjaga secara efektif dan efisien.
Cakupan pertanian sendiri sangat luas, namun sesunguhnya pertanian merupakan interaksi dalam suatu ekosistem yang membentuk pertanian secara keseluruhan. Contohnya adalah suatu kawasan yang ditanami jagung. Apa yang terjadi bila di kawasan tersebut tidak tersedia ternak ruminansia? Hubungan timbal balik akan terjadi bila ada ternak di kawasan tersebut. Apabila pertanian dikembangkan secara sendiri-sendiri maka sisa tanaman atau kotoran dari ternak merupakan limbah yang dapat menimbulkan masalah dan penanganannya memerlukan biaya tinggi sehingga akan meningkatkan biaya produksi usaha pertanian. Ekspedisi Sungai Citarum yang dilakukan oleh Kompas menunjukkan bagaimana limbah peternakan di daerah Lembang mencemari sungai dari hulu hingga hilir padahal banyak orang yang bergantung pada keberlangsungan sungai Citarum.


Bagaimana Produksi dalam Sistem Pertanian Terpadu
Produksi dalam pertanian terpadu pada hakekatnya adalah memanfaatkan seluruh potensi energi yang terdapat dalam pertanian sehingga dapat dipanen secara seimbang dan berkesinambungan. Agar proses pemanfaatan tersebut dapat terjadi secara efektif dan efisien, maka sebaiknya produksi pertanian terpadu berada dalam suatu kawasan yang terdiri atas minimal produksi tanaman dan peternakan. Keberadaan sektor-sektor ini akan mengakibatkan kawasan tersebut memiliki ekosistem yang lengkap dan seluruh komponen produksi tidak akan menjadi limbah karena pasti dimanfaatkan oleh komponen lainnya. Disamping itu akan terjadi peningkatan hasil produksi dan penekanan biaya produksi sehingga efektivitas dan efisiensi produksi akan tercapai.

Model Sistem Pertanian Terpadu di Pedesaan
Sistem Pertanian Terpadu Konvensional. Sistem pertanian terpadu konvensional sudah banyak diterapkan oleh petani di masa lalu, namun saat ini sudah banyak ditinggalkan. Tumpang sari antara peternakan ayam dan balong ikan dimana kotoran ayam yang terbuang dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Tumpang sari antara tanaman palawija dan peternakan dimana sisa-sisa tanaman digunakan sebagai pakan ternak kambing atau sapi dan kotoran ternak digunakan sebagai pupuk kandang bagi pertanaman berikutnya. Praktek-praktek pertanian terpadu konvensional ini belum mencerminkan siklus yang berkelanjutan.
Sistem Pertanian Terpadu Modern. Sistem pertanian terpadu modern memadukan pertanian dan peternakan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada dalam sistem. Petani bisa menanam padi, jagung, palawija dan hasil pertanian lainnya. Selain itu petani juga beternak sapi, kambing, ayam atau hewan ternak lainnya. Hasil yang bisa diperoleh petani dari pertanian adalah hasil utama seperti beras, jagung, kedele, dll. Dari hasil utama ini maka petani bisa menjualnya atau dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan sehari-hari. Hasil sampingnya adalah limbah pertanian yang berupa jerami padi, dedak, bekatul, jerami jagung. Limbah pertanian tersebut bisa digunakan sebagai pakan ternak yang memiliki nutrisi yang tinggi dan tahan lama. Caranya adalah mencampur limbah pertanian dengan mikroorganisme dekomposisi dan ditambah urea plus tetes. Hasilnya adalah pakan ternak yang bergizi dan mampu tahan hingga 1 tahun lamanya. Bayangkan jika seluruh limbah pertanian diolah dan digunakan sebagai pakan ternak. Tentu para petani tidak akan kekurangan pakan ternak yang pada musim kemarau sulit di dapat. Selain itu akan menurunkan biaya produksi karena rendahnya biaya pakan. Bekatul, dedak, limbah kacang, limbah kedele, ampas tahu dan ampas tempe bisa digunakan sebagai pakan konsentrat untuk meningkatkan pertumbuhan ternak.
Hasil utama yang didapat petani dari peternakan adalah daging, susu, telur dan bibit (anakan). Hasil utama tersebut sudah biasa dalam sistem peternakan karena memang hasil tersebutlan yang ingin didapatkan. Hasil samping dari peternakan adalah berupa kotoran dan dari kotoran ternaklah terutama ternak ruminansia banyak manfaat yang bisa diperoleh. Manfaat tersebut Pertama adalah kompos. Kompos diperoleh dari kotoran ternak yang difermentasi dan dicampur dengan dedak selama 3-5 hari. Kompos digunakan sebagai pupuk untuk tanaman yang bisa memperbaiki tekstur tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation, meningkatkan kemampuan kemampuan menahan air, meningkatkan aktivitas biologi tanah, meningkatkan pH tanah, dll. Bila satu hari saja kotoran yang didapat dari satu ekor sapi sebanyak 25 kg, bisa dibayangkan berapa banyak kompos yang bisa dihasilkan. Banyaknya kompos yang dihasilkan bisa dijadikan substitusi bagi pupuk kimia yang mengurangi biaya input bagi petani. Potensi pengembangannyapun semakin besar karena nilai hasil pertanian organik jauh lebih besar dibandingkan dengan pertanian biasa. Selain itu, pemasok pertanian organik masih sedikit sehingga ada peluang besar bagi yang memanfaatkannya.
Manfaat ketiga adalah bokhasi. Bokashi mirip dengan kompos, namun komponen utamanya adalah jerami padi atau limbah pertanian lainnya yang diolah menjadi pupuk. Penggunaanya pun mirip dengan kompos namun cara membuatnya sedikit lebih lama daripada kompos. Keempat adalah biogas. Biogas adalah sebuah sistem dari bakteri pembentuk gas metan secara anaerob dengan memanfaatkan bahan-bahan organik. Sumber utama bakteri pembentuk gas metan adalah hewan ruminansia. Dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber bakteri gas metan maka akan didapatkan sumber energi yang murah, ramah lingkungan dan terbarukan. Dari 1 ekor sapi maka energi biogas yang diperoleh setara dengan memasak 2-3 jam penuh. Bisa dibayangkan jika sapi di Indonesia yang jumlahnya 10 juta bisa digunakan sebagai sumber energi biogas? Akan banyak manfaat yang bisa diperoleh darinya. Selain menghasilkan biogas, reaktor biogas juga menghasilkan pupuk cair dan pupuk padat organik yang siap digunakan. Pupuk organik yang dihasilkan dari reaktor biogas memiliki nilai yang lebih tinggi karena manfaatnya lebih tinggi dibandingkan dengan kompos. Biogas juga berperan dalam memutus siklus penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme. Hal ini disebabkan karena kotoran ternak yang mengandung penyakit akan masuk ke dalam reaktor yang anaerob. Hanya bakteri penghasil gas metanlah yang mampu hidup di dalamnya dan hampir semua organisme aerob termasuk mikroorganisme penyakit akan mati. Oleh karena wajar jika biogas dapat dijadikan pemutus rantai penyakit.
Kelima adalah urine ternak dan limbah cair lainnya dari yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk cair. Limbah cair paling banyak dihasilkan dari peternakan sapi perah, namun peternakan yang lain juga menghasilkan limbah cair yang berpotensi untuk dimanfaatkan. Kegunaan pupuk cair banyak untuk pupuk tanaman hias yang diberikan secara semprot atau kegunaan lainnya. Manfaat terakhir adalah kotoran ternak sebagai pakan ternak. Kotoran ternak yang bisa digunakan sebagai pakan ternak adalah kotoran ayam karena kandungan protein kotoran ayam yang masih tinggi. Begitu juga kotoran kambing juga layak dijadikan pakan ternak. Cara pemanfaatannya adalah kotoran ternak diberikan mikroorganisme dekomposisi dan di simpan selama waktu tertentu yang kemudian ditepungkan untuk siap digunakan. Karena nilai proteinnya masih tinggi maka tepung kotoran ternak bisa dijadikan substitusi jagung, kedele atau sumber protein lainnya yang biasa digunakan sebagai pakan ternak. Namun pemanfaatan kotoran ternak sebagai pakan masih belum banyak dilakukan karena adanya nilai kepantasan bagi yang mengkonsumsi.
Dari penjelasan diatas dapat digambarkan bagaimana sistem pertanian terpadu bekerja. Pertanian menghasilkan hasil utama yang bisa dimanfaatkan langsung oleh petani. Namun hasil samping pertanian menjadi input bagi peternakan. Petani juga bisa mendapatkan hasil utama peternakan dan hasil samping peternakan menjadi input bagi pertanian. Ketersediaan input dari dalam sistem pertanian terpadu sangat memberikan manfaat bagi petani dan lingkungan. Dan alamlah yang memberikan contoh dalam menerapkan keseimbangan sistem pertanian terpadu.

Manfaat dan Keunggulan Sistem Pertanian Terpadu
Ada banyak manfaat dan keunggulan dari penerapan sistem pertanian terpadu khususnya bagi para petani rakyat di pedesaan. Sistem pertanian terpadu adalah sebuah sistem penyedia pangan yang paling efektif dan efisien karena Pertama, siklus dan keseimbangan nutrien serta energi yang akan membentuk suatu ekosistem yang mirip dengan cara alam bekerja. Sebagaimana diketahui bersama bahwa hanya bencana alamlah yang menyebabkan terjadi keusakan lingkungan pada masa lampau. Gempa, tsunami, gunung meletus dan tabrakan meteor adalah faktor-faktor yang dicatat dalam sejarah yang banyak membuat kerusakan seperti meletusnya gunung toba dan krakatau yang menyebabkan bencana di Sumatra dan Jawa serta punahnya dinosaurus akibat efek dari bertabrakannya bumi dengan meteor. Namun, akhir-akhir ini banyak kerusakan lingkungan akibat ulah manusia yang memanfaatkan alam dengan tidak memperhatikan keseimbangan ekosistem. Penggunaan energi yang polutif berperan dalam meningkatkan suhu bumi dan pencairan es di kutub. Penggunaan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida yang berlebihan menyebabkan lingkungan tercemar dan banyak penyakit yang bermunculan.  
Kedua, secara deduktif pertanian terpadu akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi yang berupa peningkatan hasil produksi dan penurunan biaya produksi. Peningkatan hasil produksi karena semakin banyak hasil produksi yang diperoleh. Hasil-hasil dari sistem pertanian terpadu adalah hasil harian yaitu susu, telur dan biogas; hasil mingguan yaitu kompos, bio urine, pakan ternak; hasil bulanan yaitu padi daging dan hasil tahunan yaitu anak sapi, anak kambing, dll. Banyaknya ragam hasil yang diperoleh menyebabkan ada semacam asuransi jika salah satu hasil gagal panen. Penurunan biaya produksi terjadi karena hampir semua input pertanian diambil dari sistem yang ada. Pakan ternak dari budidaya tanaman atau pengolahan limbah ternak dan pupuk pertanian dari limbah peternakan yang telah diolah. Memperlakukan limbah tanaman dan ternak dalam sistem yang sama juga dapat menjaga lingkungan tetap bersih tanpa ekstra pengeluaran sehingga mengurangi kebutuhan pelayanan pengumpulan sampah. Oleh karenanya secara empiris, sistem pertanian terpadu merupakan bentuk pertanian yang paling baik karena hampir tidak ada komponen yang terbuang.
Sistem pertanian terpadu juga dapat dijadikan sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan energi terutama kebutuhan energi baru terbarukan. Dengan cara yang sederhana maka akan diperoleh energi dari biogas terutama dari kotoran ternak ruminansia seperti sapi, kambing dan kerbau. Energi yang dihasilkannya rendah polusi karena karbon terbakar secara sempurna sehingga tidak menghasilkan CO2 dan bisa mengurangi efek rumah kaca. Selain itu, biogas juga berperan dalam mengurangi efek penipisan ozon karena gas CH4 dari limbah ternak yang tidak digunakan semakin berkurang. Salah satu efek negatif dari CH4 yang terbuang adalah terurainya ozon (O3) menjadi gas H2O dan CO2. Pengunaanya biogaspun beraneka ragam mulai dari kompor gas sampai dikonversi menjadi listrik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.