Thursday, February 23, 2012

Analisa Ekonomi Madura Menggunakan Tabel IO Madura Tahun 2008 (1)

1. Analisa Keterkaitan ke Belakang 
Analisa keterkaitan ke belakang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu sektor dalam mendorong pertumbuhan produksi sektor-sektor lain yang memakai input dari sektor tersebut. Jika output sektor tertentu meningkat maka akan mendorong peningkatan output sektor-sektor lainnya. Hal ini terjadi karena peningkatan output suatu sektor akan meningkatkan permintaan input sektor tersebut. Padahal input sektor tersebut bisa berasal dari sektor itu sendiri ataupun dari sektor yang lain sehingga peningkatan suatu sektor juga akan meningkatkan permintaan output sektor lainnya. Begitu seterusnya hingga terjadi keterkaitan antar sektor yang bersumber dari mekanisme penggunaan input produksi.
Dalam analisa keterkaitan ke belakang bisa dijabarkan menjadi keterkaitan ke belakang langsung, keterkaitan ke belakang tidak langsung dan keterkaitan ke belakang total. Keterkaitan ke belakang langsung terjadi jika peningkatan permintaan akhir suatu sektor maka akan terjadi peningkatan penggunaan input produksi sektor tersebut secara langsung. Peningkatan penggunaan input tersebut adalah peningkatan total output karena total input sama dengan total input. Besarnya keterkaitan ke belakang langsung suatu sektor dapat dilihat dari besarnya penjumlahan nilai kolom suatu sektor pada matriks teknologi. Berdasarkan Tabel 1. dapat dilihat bahwa 5 (lima) sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang langsung terbesar adalah sektor 20 : bank sebesar 0,4283; sektor 21 : lembaga keuangan bukan bank sebesar 0,3296; sektor 10 : air bersih sebesar 0,3079; sektor 15 : angkutan jalan raya sebesar 0,2815 dan sektor 8 : industri sebesar 0,2669. Keterkaitan ke belakang langsung sektor 20 sebesar 0,4283 artinya adalah jika terjadi peningkatan satu rupiah output sektor 20 maka akan terjadi peningkatan input sebesar 0,4283 rupiah dari sektor yang menyediakan input secara langsung termasuk dari sektor 20 sendiri.
 Tabel 1.
Analisa Keterkaitan ke Belakang Perekonomian Madura Tahun 2008
No
Sektor
Keterkaitan ke Belakang
Langsung
Total
1
Tanaman Bahan Makanan
0.1359
1.1607
2
Tanaman Perkebunan
0.0902
1.1132
3
Peternakan dan Hasil-hasilnya
0.0965
1.1153
4
Kehutanan
0.0539
1.0672
5
Perikanan
0.1761
1.2152
6
Minyak dan Gas Bumi
0.1228
1.1402
7
Penggalian
0.0844
1.1045
8
Industri
0.2669
1.3151
9
Listrik dan Gas
0.2296
1.2863
10
Air Bersih
0.3079
1.4270
11
Bangunan
0.2057
1.2392
12
Perdagangan Besar & Eceran
0.1098
1.1447
13
Hotel              
0.1362
1.1629
14
Restoran
0.1773
1.2109
15
Angkutan Jalan Raya 
0.2815
1.3469
16
Angkutan Laut
0.2161
1.2675
17
Angkutan Sungai, Danau & Penyebrangan
0.1870
1.2296
18
Jasa Penunjang Angkutan
0.0129
1.0162
19
Komunikasi
0.1084
1.1378
20
Bank
0.4283
1.6021
21
Lembaga Keuangan Bukan Bank
0.3296
1.4464
22
Real Estate
0.1123
1.1491
23
Jasa Perusahaan
0.2425
1.3113
24
Pemerintahan Umum
0.2277
1.2854
25
Jasa Sosial Kemasyarakatan
0.1717
1.2067
26
Jasa Hiburan & Rekreasi
0.1875
1.2298
27
Jasa Perorangan & Rumahtangga
0.1841
1.2230
Sumber : Hasil Pengolahan, 2011
Keterkaitan ke belakang tidak hanya memiliki efek langsung saja namun juga memiliki efek tidak langsung dari penambahan output suatu sektor. Besarnya keterkaitan ke belakang tidak langsung bisa dilihat dari besarnya keterkaitan ke belakang total karena didalamnya terdiri atas efek langsung dan tidak langsung. Besarnya keterkaitan ke belakang total ditunjukkan dengan besarnya nilai kolom suatu sektor pada matriks kebalikan Leontief. Berdasarkan Tabel 1. dapat ditunjukkan bahwa 5 (lima) sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang total terbesar adalah sektor 20 : bank sebesar 1,6021; sektor 21 : lembaga keuangan bukan bank sebesar 1,4464; sektor 10 : air bersih sebesar 1,4270; sektor 15 : angkutan jalan raya sebesar 1,3469 dan sektor 8 : industri sebesar 1,3151. Besarnya nilai keterkaitan ke belakang total memiliki nilai lebih dari satu karena didalamnya juga memperhitungkan perubahan input dari suatu sektor yang dimaksud. Keterkaitan ke belakang total sektor 20 sebesar 1,6021 artinya adalah jika terjadi peningkatan satu rupiah output sektor 20 maka akan terjadi peningkatan input total sebesar 1,6021 rupiah dari sektor yang menyediakan input termasuk dari sektor 20 sendiri.
Sektor 20 : bank dan sektor 21 : lembaga keuangan bukan bank memiliki nilai keterkaitan yang ke belakang yang tinggi menunjukkan bahwa sektor tersebut mampu menarik perekonomian Madura melalui penyediaan dana bagi masyarakat yang bisa digunakan untuk proses produksi. Meskipun dalam struktur PDRB peran sektor 20 dan sektor 21 hanya menyumbang 1,3% namun cukup mampu menarik produksi sektor lain. Semakin besar nilai keterkaitan ke belakang suatu sektor maka akan semakin besar pula kemampuan sektor tersebut untuk menarik produksi sektor lainnya melalui penyediaan input.
Keterkaitan ke belakang sektor lingkup pertanian sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh sektor lingkup pertanian sebagai sektor primer sehingga sangat minim kebutuhan penggunaan input dari sektor lainnya. Kebutuhan input sektor lingkup pertanian berupa pupuk, bibit, benih, pestisida, obat ternak serta alat mesin pertanian. Dengan semakin kecil penggunaan input yang masuk ke sektor lingkup pertanian maka semakin kecil pula nilai keterkaitan ke belakang. Sektor yang paling memiliki keterkaitan ke belakang yang kuat dengan sektor lingkup pertanian adalah sektor 12 : perdagangan besar dan eceran serta sektor 8 : industri. Hal ini menunjukkan input produksi dari sektor lingkup pertanian banyak diperoleh dari perdagangangan serta yang merupakan hasil produksi industri. Semakin besar nilai keterkaitan ke belakang sektor pertanian maka semakin besar pula sektor 12 dan sektor 8 menghasilkan output sebagai sektor lingkup pertanian.
Sektor 8 : industri memiliki keterkaitan ke belakang yang besar menunjukkan bahwa semakin banyak input yang dibutuhkan untuk menghasilkan output. Sektor yang memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor 8 adalah sektor lingkup pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa banyak industri yang berkembang di Madura yang menggunakan input dari sektor pertanian seperti industri keripik, serta industri makanan lainnya. Selain itu sektor lain yang memiliki keterkaitan ke belakang yang kuat dengan sektor 8 adalah sektor 12 : perdagangan besar dan eceran. Hal ini menunjukkan bahwa banyak input sektor 8 yang diperoleh dari hasil sektor perdagangan. Semakin besar output produksi sektor 8 maka akan semakin besar pula input yang dibutuhkan yang berasal dari sektor lingkup pertanian dan sektor 12 : perdagangan besar dan eceran.
Oleh karena itu, hasil analisa keterkaitan ke belakang perekonomian Madura tahun 2008 bisa dijadikan strategi dalam pembangunan perekonomian Madura.

Sunday, February 19, 2012

SUKU BUNGA KOPERASI ANDINI JAYA BANGKALAN YANG KOMPETITIF

Bank Indonesia beberapa waktu yang lalu menurunkan suku bunga kredit acuan sebanyak 25 poin dari 6,00% menjadi 5,75%. Alasannya adalah fondasi perekonomian Indonesia yang semakin baik serta bermaksud untuk mendorong pertumbuhan investasi karena semakin rendah suku bunga kredit maka investasi akan semakin besar. Penurunan suku bunga tersebut diharapkan juga menurunkan suku bunga kredit bank komersial hingga mencapai 7,00-8,00% sehingga tujuan penurunan suku bunga kredit benar tercapai.
Koperasi Andini Jaya Bangkalan di dalam Rencana Kerja tahun 2012 telah menetapkan suku bunga kredit sebesar 15% sama seperti tahun 2011. Apakah suku bunga tersebut kompetitif dibandingkan dengan suku bunga bank komersial? Berapakah suku bunga yang kompetitif bagi Koperasi Andini Jaya?
Sejak menjadi anggota Koperasi Andini Jaya pada tahun 2006 maka penurunan suku bunga kredit terjadi satu kali yaitu pada 2011 dimana suku bunga kredit turun dari 18% menjadi 15%. Penurunan itu sebagai respon dari tingginya perbedaan suku bunga koperasi dengan suku bunga bank yang mencapai 7-8% sehingga banyak anggota koperasi yang lebih memilih meminjam di bank dibandingkan dengan koperasi serta penurunan omzet kredit koperasi pada 2011. Agar anggota koperasi tetap memanfaatkan kredit di koperasi maka tahun 2011 itulah suku bungan turun. Sebagai informasi bahwa saat itu suku bunga kredit acuan BI sebesar 6,50%.
Penurunan suku bunga kredit sebanyak 3% di tahun 2011 ternyata memberikan dampak yang cukup baik bagi koperasi. Omzet kredit naik hingga 90 juta rupiah dari 401 juta pada 2010 menjadi 491 juta pada 2011. Kenaikan omzet tersebut juga dibarengi dengan kenaikan provisi dari 4,8 juta pada 2010 menjadi 5,5 juta pada 2011. Dua indikator ini menunjukkan bahwa penurunan suku bunga kredit menyebabkan anggota koperasi bergairah untuk meminjam di koperasi sehingga omzet koperasi dan pendapatan dari provisi meningkat. Disisi lain, Pendapatan dari jasa kredit tahun 2011 relatif sama dibandingkan tahun 2010 yaitu sebesar 115 juta rupiah walaupun suku bunga diturunkan. Hal ini menunjukkan bahwa penurunan suku bunga kredit tidak memberikan pengaruh pengurangan penerimaan koperasi. Penurunan suku bunga kredit diimbangi peningkatan omzet sehingga penerimaan jasa kredit relatif stabil.
Dengan suku bunga kredit acuan BI tahun 2012 sebesar 5,75% dan suku bunga bank komersial akan ditekan hingga 7-8% maka suku bunga kredit koperasi sebesar 15% menjadi kurang kompetitif lagi. Penurunan omzet koperasi seperti pada tahun 2010 akan mungkin terjadi lagi di 2012. Margin suku bunga kredit yang tinggi antara koperasi dan bank komersial menjadi penyebab anggota lebih memilih meminjam di bank komersial.
Sepertinya perlu dikaji lebih jauh lagi kemungkinan penurunan suku bunga kredit koperasi menjadi 12%. Selain penurunan suku bunga kredit acuan dan bank komersial plus inflasi tahun 2011 yang hanya 3,75% maka suku bunga kredit koperasi sebesar 12% menjadi kompetitif dan layak dipertimbangkan. Jika itu terjadi maka kenaikan omzet akan pasti terjadi dan penurunan pendapatan dari jasa kredit relatif tidak besar. Memang diperlukan tambahan modal untuk mengantisipasi kenaikan omzet kredit USP dan menjaring modal anggota adalah pilihan yang pas. Jika penurunan suku bunga kredit tidak diimbangi dengan kenaikan modal maka antrian peminjam akan kembali terjadi dan ini bisa menjadi alasan lain yang menyebabkan anggota akan meminjam ke bank.